Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigadir Jenderal Rikwanto, mengenakan pin "Aman, Ada Kami" di seragamnya pada hari Pilkada DKI Jakarta Putaran ke-2, 19 April 2017. Tempo/Rezki Alvionitasari



- Kejahatan siber yang dijalankan oleh puluhan warga Cina di Indonesia, menyasar sesama warga negara Cina. “Modusnya menipu dan memeras,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Rikwanto di Jakarta Sabtu, 29 Juli 2017.


Petugas gabungan Polri mengamankan 27 warga Cina yang diduga menjadi sindikat kejahatan siber internasional di Jalan Sekolah Duta, Pondok Indah, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan pada Sabtu , 29 Juli 2017.

Rikwanto mengatakan petugas gabungan Polri itu terdiri dari Direktorat Siber Badan Reserse Kriminal (Bareskrim), Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya dan Polres Kota Depok pimpinan Ajun Komisaris Besar Polisi Didik Sugiarto.
Rikwanto mengungkapkan para pelaku yang ditangkap berjumlah 27 orang terdiri atas 15 orang pria dan 12 orang perempuan yang seluruhnya berasal dari Cina.


Para pelaku diketahui melakukan kejahatan penipuan dan pemerasan terhadap sesama warga Cina dengan mengaku sebagai aparat penegak hukum.
Awalnya, pelaku menghubungi dan menuduh korban teribat kasus hukum sehingga membuat korban panik. Selanjutnya, pelaku meminta korban mentransfer sejumlah uang dengan rtujuan supaya korban tidak dijerat kasus hukum yang dituduhkan.
Setelah korban mengirimkan uang baru menyadari tertipu selanjutnya melaporkan ke kepolisian Cina. Mereka telah menjalankan aksi ini sejak Maret 2017.
Dalam penggerebekan di salah satu rumah di Pondok Indah tersebut, polisi menyita barang bukti berupa tujuh unit laptop, 31 unit iPad mini, satu unit iPad, 12 unit handytalky, 12 unit router wireless, tiga unit jaringan telekomunikasi, empat telepon selular, 17 keypad numeric dan 20 lembar kartu tanda penduduk Cina.




Sumber Info